translate this page


English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

tinggalkan cuap-cuapmu disini

Dea Istriku

Istriku adalah wanita terbaik yang ku kenal dalam hidupku, derita batin yang dialami istriku, dibawanya hingga akhir hayat. Sungguh tak ada yang paling kusesali kecuali rasa berdosa akan semua kelakuanku ini padanya.
Semua telah terjadi, semua telah ku alami, serasa hidup ini tak berarti lagi untuk ku, istriku…, kau wanita terbaik yang pernah ku kenal.
Sebut saja aku Gali (samaran). Aku menikah dengan Dea (samaran) tahun 2005 lalu, dan kini telah dikaruniai seorang anak.
Dea tak mampu mengubah gaya hidupku yang setiap hari hanya menghabiskan waktu di meja judi. Saat ijab kabul aku pernah berjanji tak akan lagi kembali ke dunia itu. Namun, waktu kemudian meluluhkan semuanya, aku tergiur lagi untuk menghabiskan uangku dengan judi, judi…, dan judi hanya itu yang kulakukan setiap harinya.

Dea berusaha keras merubahku, tapi apa yang kuberikan hanyalah derita batin. Seringkali tanpa pernah kusadari, semua kebaikannya kubalas dengan pukulan dan pukulan. Dea tetap bersabar dan terus bersabar menghadapiku sampai anak pertama kami lahir.
Cemoohan dan tekanan dari keluarga yang diterimanya, membuat Dea menderita lahir batin. Rupanya, itu dipendam seorang diri, sehingga menjadi penyakit yang berkepanjangan. Sementara, aku hanya membiarkan itu terjadi padanya. Seolah tak terbesik sedikitpun kesadaran dalam hatiku untuk membahagikannya.
Setahun kemudian…, pada tanggal 17 Maret, Dea tergolek sakit di rumah. Beberapa kali ia memintaku untuk membawanya ke rumah sakit, namun…, semua tak kupedulikan. Aku lebih sibuk menghabiskan semua penghasilanku di meja judi bersama teman-temanku, ketimbang membiayai pengobatan Dea saat itu.
Hanya berselang beberapa bulan kemudian, kondisi Dea semakin memburuk. Aku pun menyempatkan membawanya ke rumah sakit saat itu, tapi sebelumnya kami sempat rebut dan aku memukulnya, karna sakit yang di derita Dea aku tidak bisa bermain judi saat itu. Dalam perjalanan ke rumah sakit kami ribut terus, sampai – sampai aku mengucapkan kata cerai karna aku merasa Dea adalah penghalang bagi hobi ku berjudi.
Sesampainya di rumah sakit, Dea langsung menjalani pemeriksaan, lama ku tunggu beberapa jam dengan perasaan marah karna aku harus pergi bermain judi bersama teman – teman ku saat itu. Tak lama kemudian akhirnya seorang Dokter keluar dan mengatakan pada ku kalau Dea sakit kanker stadium akhir dan sudah tak bisa di obati lagi…, serasa seperti kilat menyambar saat ku mendengar Dokter mengatakan itu…, ku hanya bisa bersandar pada dinding rumah sakit sambil menangis…, ku hanya bisa berucap…, aku mencintaimu Dea… sambil menitikan air mata…
Ku saksikan sendiri di saat – saat Dea meregang nyawa, ku lihat dari matanya, serasa Ia hendak mengucapkan sesuatu pada ku saat itu, aku hanya bisa menangis saat melihat semuanya terjadi. Ya Tuhan…, apa yang telah ku perbuat pada istriku ini…, aku yang berdosa, aku yang telah jahat padanya, tapi kenapa KAU menyiksa dia seperti ini…?, kenapa Tuhan…?
Diakhir-akhir hidupnya ini barulah aku sadar, ternyata, Dea sudah membuktikan betapa selama ini ia terlalu berusaha berbakti padaku, sampai kemudian Tuhan benar - benar memanggilnya kembali. Penyesalan ku sudah terlambat, Dea telah pergi tinggalkan aku untuk selamanya, aku sendiri meratapi penyesalan ini, andai bisa ku ulang lagi waktu itu, aku berjanji akan selalu berusaha membahagiakanya selama hidup ku…
Pembaca, entahlah apakah Tuhan masih membuka pintu ampunan bagiku. Yang jelas saat ini, aku berusaha untuk menggunakan waktuku untuk menjaga dan membesarkan anakku seorang diri. Aku sudah bersumpah tak akan ada wanita yang menggantikan posisi Dea di hatiku. Mudah-mudahan kisahku ini bisa menjadi pelajaran bagi anda semua.
Ada satu yang paling ku ingat saat perjalanan ke rumah sakit saat itu…, dan sampai sekarang pun masih ku ingat kata – kata itu…, Dea sempat mengatakan dengan suara yang hampir hilang karna sakit yang telah di tahanya dan saat itupun aku sedang memarahinya…, ia hanya mengatakan… Aku akan menemanimu sampai akhir hidup ku mas…, karna aku menyayangimu…
Jika mengingat kata – kata itu…, aku selalu menangis sendiri…, aku sungguh menyesal…


Dea…

Salam bahagia untuk anda

Sepenggal Kisah Kepergian Daniel Ari Wardhana

Tuhan kami tahu bahwa ada satu rencana indah dibalik ini semua, kami percaya bahwa semua ini yang terbaik, tapi kami menyayanginya Tuhan, dan kami merasa sangat kehilangan Dani. Tuhan ajari kami untuk bisa menerima semua ini dan ajari kami untuk menjadi lebih dewasa melalui kejadian ini.
Doa itulah yang terucap dari mulut seorang ayah di pusara putranya seusai prosesi pemakaman. Semua yang masih tinggal di kompleks pemakaman dan mendengar sepenggal doa itu pun tak kuasa menahan air mata. Suasana duka yang mendalam begitu terasa. Seorang Daniel Ari Wardhana telah di panggil pulang ke pangkuan Bapa.
Daniel adalah salah satu mahasiswa jurusan matematika yang tercerdas di angkatannya, pemain gitar yang hebat, dan sosok anak yang mandiri. Saya sendiri mengenalnya sejak pertengahan tahun 2005 saat mengisi acara dalam pendampingan mahasiswa baru FMIPA UNY.

Kemudian kami sering saling sapa jika kebetulan bertemu di lorong-lorong kampus maupun di acara persekutuan. Tahun 2006 kami sama-sama menjadi panitia Inagurasi PMK, saat itulah saya mengenalnya lebih jauh. Saya tertawa ketika tahu dia pengagum berat Sheila on 7, saya juga sempat mengucapkan selamat ketika di semester awal dia mendapatkan IP 4 bulat, dan saya juga masih ingat betul ketika dia menjelaskan tentang detil games yang akan dimainkan pada saat outbond. Namun setelah Inagurasi selesai saya sudah jarang bertemu ataupun mendengar kabar tentangnya. Hingga akhirnya Jumat siang tanggal 24 Juli 2009 datanglah berita duka itu.
Siang itu saat Daniel akan pergi ke kampus untuk bimbingan skripsi. Sebelum pergi dia menyempatkan diri untuk berdoa. Mungkin sudah mendapatkan firasat bahwa dia akan pergi untuk selamanya, doanya kali itu berlangsung lama dan tentu saja hal itu membuat heran ibunya. Setelah berpamitan diapun beranjak pergi. Dalam perjalanan sebuah truk menyerempet motornya, membuatnya terjatuh, dan truk itu yang kemudian menyeret serta melindas kepalanya. Saat itu pula dia langsung meninggal di lokasi kejadian, tanpa rasa sakit yang berkepanjangan. Ayahnya yang berada tepat di belakang motor Daniel melihat secara langsung kejadian tersebut.
Saya tidak mampu membayangkan bagaimana perasaan sang Ayah melihat putranya terseret truk, kemudian jatuh dan terlindas. Bagaimana perasaan beliau ketika mengangkat tubuh putranya yang sebagian kepalanya sudah hancur dengan tangannya sendiri. Darah mengalir dari tubuh Daniel dan membasahi pakaian Sang Ayah. Jika semua dapat dihentikan, saya yakin Ayahnya lebih memilih untuk meninggal tertabrak truk daripada harus menyaksikan kejadian itu menimpa putra pertamanya. Kejadian saat itu pasti sangat memilukan bagi siapa saja yang melihatnya.
Namun satu hal yang benar-benar membuat saya tak kuasa menahan air mata adalah ketika Sang Ayah dengan tegar menceritakan tentang kejadian yang menimpa putranya, kemudian beliau tidak marah kepada Tuhan karena merasa Tuhan tidak adil, melainkan beliau tetap percaya bahwa rencana Tuhan baik adanya. Dalam segala keadaan beliau tetap mengucap syukur kepada Tuhan. Beliau tidak memungkiri kenyataan bahwa beliau merasa sangat kehilangan, namun bagaimanapun juga hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Meski semua kejadian itu belum bisa beliau terima, namun beliau memilih untuk berserah sepenuh kepada Tuhan.
Kadang tanpa saya sadari saat banyak hal buruk menimpa saya, saya marah-marah kepada Tuhan bahkan terkadang berlari menjauh serta meninggalkanNya. Saya merasa Tuhan tidak adil dalam memperlakukan saya. Namun melalui kejadian ini saya disadarkan tentang berbagai hal. Keadilan itu bukan menurut pendapat saya, melainkan itu otoritas Tuhan. Apapun yang Tuhan beri dalam kehidupan saya adalah baik dan adil adanya. Tuhan tidak pernah membiarkan saya mengatasi masa-masa sulit sendiri. Yang Tuhan inginkan dari saya hanyalah penyerahan diri sepenuh untuk tunduk terhadap otoritasNya dan bersyukur dalam setiap keadaan.
Jika kami menang dan bahagia kami akan memuji namaMu, namun jika kami kalah serta berduka pun kami akan tetap memuji namaMu
Dani, saya tahu bahwa kepergianmu tidaklah sia-sia. Saya yakin dan sepakat bahwa rencana Tuhan baik adanya. Kepergianmu telah mengajarkan sesuatu kepada kami yang engkau tinggalkan. Kedewasaan dalam pengenalan akan Tuhan, dan penyerahan total kepada kehendak Tuhan, karena semua yang Tuhan berikan adalah baik adanya.
Selamat jalan sahabatku, aku percaya bahwa Tuhan telah persiapkan tempat indah untukmu

Gambiran, 27 Juni 2009

Kekuatan di Saat Kita Berserah

Pada hari dimana tunangan saya meninggal dunia, hari itu mulai turun salju, seperti hari-hari biasa pada bulan November sebelum dia jatuh dari atap. Tubuhnya, ketika saya menemukannya, sudah sedikit tertutup salju.
Salju turun hampir setiap hari selama empat bulan setelah itu. Selama itu saya hanya duduk di sofa dan melihat salju menumpuk.
Suatu pagi, saya dengan hati yang berat turun ke lantai bawah dan terkejut melihat ada yang sedang membersihkan jalanan di muka rumah saya. Saya melihat seorang wanita yang mencangkul salju di depan pintu rumah. Saya menunduk dan merangkak melewati ruang tamu, dan kembali ke lantai atas karena saya tidak mau orang-orang yang baik hati itu melihat saya. Saya malu. Pikiran yang muncul di benak saya adalah bagaimana saya akan dapat membayar mereka? Saya tidak memiliki kekuatan untuk menyisir rambut saya apalagi untuk membersihkan salju di halaman orang lain.

Sebelum Jon meninggal, saya bangga karena saya jarang sekali meminta pertolongan. Saya mendefiniskan diri saya sebagai seorang yang kompeten dan mandiri. Jadi siapakah saya apabila saya bukan orang yang cekatan dan sibuk? Bagaimana saya dapat menghormati saya sendiri apabila yang saya lakukan hanyalah duduk di sofa setiap hari sambil menonton salju turun?
Belajar untuk menerima kasih dan dukungan bukanlah hal yang mudah. Teman-teman memasak untuk saya dan saya menangis karena saya bahkan tidak dapat membantu menyiapkan meja. "Saya selalunya tidak semalas ini," hati saya seolah-olah berteriak. Akhirnya, teman saya Kathy meminta saya duduk dan ia berkata kepada saya, "Mary, memasak untuk kamu bukanlah satu beban. Saya mengasihi-mu dan saya mau melakukannya. Saya merasa senang dapat berbuat sesuatu untuk kamu."
Berulang-ulang kali, saya mendengar kata-kata itu dari orang-orang yang mendukung saya pada masa-masa kelam tersebut. Seorang pria yang sangat bijak berkata kepada saya, "Kamu bukannya tidak melakukan apa-apa. Dengan terbuka penuh atas penderitaanmu mungkin adalah pekerjaan yang tersulit yang pernah kamu lakukan.'"
Saya sekarang bukanlah seorang saya yang dulu, tetapi di dalam banyak hal saya berubah menjadi lebih baik. Kain di dalam kehidupan saya telah terajut dengan rasa syukur dan kerendahan hati. Saya terkejut dengan mengetahui bahwa ada suatu kebebasan yang datang dengan menghadapi rasa ketakutan yang paling dalam dan berjalan dengan utuh. Saya percaya adanya kekuatan pada saat kita berserah.
Tuhan tidak pernah meninggalkan kita di saat-saat kita merasa paling terpuruk. Ia menghantar malaikat-malaikatnya dalam bentuk teman-teman dan orang-orang di sekitar kita untuk membantu kita dengan cara yang praktis dan penuh kasih.