Istriku adalah wanita terbaik yang ku kenal dalam hidupku, derita batin yang dialami istriku, dibawanya hingga akhir hayat. Sungguh tak ada yang paling kusesali kecuali rasa berdosa akan semua kelakuanku ini padanya.Semua telah terjadi, semua telah ku alami, serasa hidup ini tak berarti lagi untuk ku, istriku…, kau wanita terbaik yang pernah ku kenal.
Sebut saja aku Gali (samaran). Aku menikah dengan Dea (samaran) tahun 2005 lalu, dan kini telah dikaruniai seorang anak.
Dea tak mampu mengubah gaya hidupku yang setiap hari hanya menghabiskan waktu di meja judi. Saat ijab kabul aku pernah berjanji tak akan lagi kembali ke dunia itu. Namun, waktu kemudian meluluhkan semuanya, aku tergiur lagi untuk menghabiskan uangku dengan judi, judi…, dan judi hanya itu yang kulakukan setiap harinya.
Dea berusaha keras merubahku, tapi apa yang kuberikan hanyalah derita batin. Seringkali tanpa pernah kusadari, semua kebaikannya kubalas dengan pukulan dan pukulan. Dea tetap bersabar dan terus bersabar menghadapiku sampai anak pertama kami lahir.
Cemoohan dan tekanan dari keluarga yang diterimanya, membuat Dea menderita lahir batin. Rupanya, itu dipendam seorang diri, sehingga menjadi penyakit yang berkepanjangan. Sementara, aku hanya membiarkan itu terjadi padanya. Seolah tak terbesik sedikitpun kesadaran dalam hatiku untuk membahagikannya.
Setahun kemudian…, pada tanggal 17 Maret, Dea tergolek sakit di rumah. Beberapa kali ia memintaku untuk membawanya ke rumah sakit, namun…, semua tak kupedulikan. Aku lebih sibuk menghabiskan semua penghasilanku di meja judi bersama teman-temanku, ketimbang membiayai pengobatan Dea saat itu.
Hanya berselang beberapa bulan kemudian, kondisi Dea semakin memburuk. Aku pun menyempatkan membawanya ke rumah sakit saat itu, tapi sebelumnya kami sempat rebut dan aku memukulnya, karna sakit yang di derita Dea aku tidak bisa bermain judi saat itu. Dalam perjalanan ke rumah sakit kami ribut terus, sampai – sampai aku mengucapkan kata cerai karna aku merasa Dea adalah penghalang bagi hobi ku berjudi.
Sesampainya di rumah sakit, Dea langsung menjalani pemeriksaan, lama ku tunggu beberapa jam dengan perasaan marah karna aku harus pergi bermain judi bersama teman – teman ku saat itu. Tak lama kemudian akhirnya seorang Dokter keluar dan mengatakan pada ku kalau Dea sakit kanker stadium akhir dan sudah tak bisa di obati lagi…, serasa seperti kilat menyambar saat ku mendengar Dokter mengatakan itu…, ku hanya bisa bersandar pada dinding rumah sakit sambil menangis…, ku hanya bisa berucap…, aku mencintaimu Dea… sambil menitikan air mata…
Ku saksikan sendiri di saat – saat Dea meregang nyawa, ku lihat dari matanya, serasa Ia hendak mengucapkan sesuatu pada ku saat itu, aku hanya bisa menangis saat melihat semuanya terjadi. Ya Tuhan…, apa yang telah ku perbuat pada istriku ini…, aku yang berdosa, aku yang telah jahat padanya, tapi kenapa KAU menyiksa dia seperti ini…?, kenapa Tuhan…?
Diakhir-akhir hidupnya ini barulah aku sadar, ternyata, Dea sudah membuktikan betapa selama ini ia terlalu berusaha berbakti padaku, sampai kemudian Tuhan benar - benar memanggilnya kembali. Penyesalan ku sudah terlambat, Dea telah pergi tinggalkan aku untuk selamanya, aku sendiri meratapi penyesalan ini, andai bisa ku ulang lagi waktu itu, aku berjanji akan selalu berusaha membahagiakanya selama hidup ku…
Pembaca, entahlah apakah Tuhan masih membuka pintu ampunan bagiku. Yang jelas saat ini, aku berusaha untuk menggunakan waktuku untuk menjaga dan membesarkan anakku seorang diri. Aku sudah bersumpah tak akan ada wanita yang menggantikan posisi Dea di hatiku. Mudah-mudahan kisahku ini bisa menjadi pelajaran bagi anda semua.
Ada satu yang paling ku ingat saat perjalanan ke rumah sakit saat itu…, dan sampai sekarang pun masih ku ingat kata – kata itu…, Dea sempat mengatakan dengan suara yang hampir hilang karna sakit yang telah di tahanya dan saat itupun aku sedang memarahinya…, ia hanya mengatakan… Aku akan menemanimu sampai akhir hidup ku mas…, karna aku menyayangimu…
Jika mengingat kata – kata itu…, aku selalu menangis sendiri…, aku sungguh menyesal…
Dea…
Salam bahagia untuk anda





0 komentar:
Posting Komentar